Kisah nyata paling memalukan dalam sejarah kehidupan Lurah Katrok (Lurkat) ini terjadi pada bulan Maret 1996 di Jl. Thamrin Jakarta. Waktu itu di Jakarta sedang digalakkan Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Siapa saja yang dianggap melanggar pasti akan didenda dalam jumlah yang besar atau ancaman kurungan penjara selama maksimal 2 minggu.
Sudah menjadi kebiasaan si Lurkat ini kalau hari Sabtu & kebetulan tidak ada jadwal refreshing ke Yogya, pasti doi dolan ke kos-kosan Ibrahim & Marwoto di Kampung Bali, pulangnya Senin subuh. Karena tempat kos Lurkat di Tanjung Priok sangat tidak nyaman untuk menikmati hidup, sumpek & panas. Perlu diketahui saat itu Lurkat masih magang di sebuah bank pemerintah yang sekarang merger menjadi Bank Mandiri, di daerah Tj Priok.
Lurkat biasa naik PPD dari Senen kalau mau ke Kampung Bali. Biasanya turun tepat di depan Sarinah, untuk kemudian menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Tapi entah kenapa hari itu malesnya minta ampun untuk naik jembatan. Akhirnya Lurkat yang naik bus dari arah utara turun sebelum perempatan Sarinah. Tengok sana tengok sini, kok kelihatannya gak ada satupun polisi yang jaga. Dengan still yakin doi menyeberang jalan.
Tanpa diduga dari arah selatan meluncur kencang seorang polwan yang sangat kekar, mirip Xena the Warrior Princess naik moge Suzuki (mungkin saudaranya Parjiyo, karena sama-sama penggemar Suzuki). Blaik tenan, mau lari sudah nggak mungkin. Sebab posisi Lurkat masih di portal pembatas antara jalur cepat & jalur lambat. Akhirnya doi pasrah bongkokan.
"Anda tahu kesalahan yang Anda lakukan?" bentak bu Polwan.
"Wah saya salah apa Bu ya?" kata Lurkat pura-pura bego (padahal asline yo bego tenan).
"Nggak usah pura-pura. Anda telah bersalah menyeberang di tempat yang tidak semestinya. Lihat KTPnya?"
Dasar Lurkat ini bocah mbambung, tiba-tiba timbul akal julignya. Elek-elek begini Lurkat ini jago kalau disuruh akting. "Waduh saya baru 2 hari ini datang dari kampung, mau mencari saudara saya yang tinggal di Kampung Bali. Jadi saya tidak tahu kalau saya telah melanggar peraturan. Kalau Ibu tidak percaya, coba lihat KTP saya..." kata Lurkat sambil logatnya dimedok-medokkan biar kelihatan katroknya.
Kebetulan KTP Lurkat memang KTP ndeso asli Kedungombo, mBoyolali. Bu Polwan setelah melihat KTP itu jadi sedikit lunak. Dipandangnya Lurkat dengan penuh selidik. Mungkin dia berpikir, 'Bocah ini pancen ndeso tenan, pasti dia tidak berbohong'. Kemudian katanya, "OK Anda mungkin tidak tahu. Tapi Anda tetap bersalah. Sebagai hukumannya, sekarang silakan pilih mau push up atau scotch jump 10 kali?"
Lurkat berpikir cepat, kalau push up jelas nggak kuat. Akhirnya doi milih scotch jump aja. Bu Polwan setuju. Cuma goblognya polwan ini kok ya berdiri sok wibawa menghadap ke timur, membelakangi Lurkat. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan oleh Lurkat yang asline otaknya encer tenan. Lurkat menghitung 1 sampai dengan 10 tapi tidak melakukan apa-apa. Sambil pura-pura napasnya ngos-ngosan Lurkat berkata, " Sudah Bu.... boleh saya minta KTPnya Bu?
"Ini, jangan diulangi lagi ya..." kata Bu Polwan ketus sambl menyerahkan KTP pada Lurkat.
Lurkat ngacir sambil menahan tawa. Padahal waktu membohongi Polwan tadi, doi deg-degan luar biasa. Soalnya di sekitar lokasi itu banyak pedagang asongan yang melihat sambil tertawa terbahak-bahak. Seandainya ada yang memberitahu Bu Polwan kalau dibohongi, bisa-bisa hukumannya ditambahi atau malah dijebloskan ke penjara.....
Itulah cerita pribadi Lurkat yang paling lucu sekaligus paling memalukan sepanjang hayat. Kalau teman-teman pernah dengar lagunya Iwan Fals yang ada liriknya:
".. orang gila di lampu penyeberangan jam dua siang, membawa gembolan...."
itu jelas-jelas inspired by kisah nyata yang Lurkat tuturkan di atas.... he he he.....
|