Saat kuliah di Kairo, teman satu mess Gus Dur jumlahnya sekitar 10-an orang. Isinya mahasiswa dari Indonesia semua. Agar adil & tidak terjadi kecemburuan, maka diadakan pembagian tugas. Jadwal kerja diatur sangat rapi, siapa yang bertugas membersihkan rumah & siapa yang masak untuk seluruh penghuni sudah ditetapkan sesuai kesepakatan bersama.
Penghuni mess sangat senang apabila yang masak adalah giliran Gus Dur. Karena masakannya lumayan enak & sedikit mewah bagi ukuran anak perantauan. Pernah beberapa kali kesempatan Gus Dur masak kepala ikan sejenis kakap dalam porsi yang banyak. Padahal kalau dipikir-pikir anggarannya kan mepet, nggak mungkin kalau Gus Dur nggak nombok. Tapi pikiran itu cuma dipendam oleh teman-teman sesama penghuni mess. Yang penting makan enak & perut kenyang.
Suatu hari giliran teman Gus Dur, sebut saja Ali mendapat jatah masak Dia keliling-keliling pasar & tanpa sengaja sampai di los khusus penjual ikan. Penjualnya orang Turki. Karena si penjual ramah maka terciptalah obrolan yang hangat. Begitu tahu si Ali orang Indonesia, si penjual bertanya, "Anda kenal yang namanya Wahid, dia orang Indonesia juga. Orangnya gemuk & berkacamata?"
"O iya kenal banget. Malah dia teman satu rumah dengan diriku" kata Ali.
"Wahid itu orangnya aneh. Setahu saya dia orang muslim, tapi kok katanya dia memelihara anjing. Jumlahnya sekitar 20 lagi.... Saya tahu karena kalau dia datang ke sini bukan belanja tapi cuma meminta kepala ikan buat ngasih makan anjing-anjingnya. Kebetulan kepala ikan itu tidak berguna, jadi daripada saya buang ke tempat sampah lebih baik saya kasihkan buat dia..."
Si Ali berpikir cepat... lalu dia memaki-maki dalam hati. Blaik tenan Gus Dur iki! Baru sadar dia bagaimana cara Gus Dur mendapatkan kepala ikan secara gratis. Bergegas dia pulang & menceritakan soal itu kepada teman-teman lainnya. Malamnya Gus Dur 'disidang' oleh semua temannya.
"Sialan.... kamu anggap kami-kami ini anjing ya....?" kata mereka serempak
Dasar Gus Dur bocah mbambung di usia mudanya, dia cuma cengar-cengir.....
|