Waktu kuliah di Kairo, rekan kuliah satu letting Gus Dur adalah KH Mustofa Bisri, yang sekarang menjadi pengasuh Ponpes Rembang. Mereka waktu itu tinggal satu mess, sejenis apartemen tapi sempit. Jadi semua kegiatan yang terjadi di dapur bisa kelihatan dari ruang tamu, begitu pula sebaliknya.
Pada suatu hari mereka kedatangan tamu penting yang usianya lebih muda. Istilahnya yunior mereka. Tamu itu adalah KH Syukri Zarkasyi (yang waktu itu tentu saja belum bergelar Kyai Haji) yang sekarang kalau tidak salah adalah pengasuh Ponpes Gontor. Kata Gus Dur, di Kairo kerjanya cuman main band kok pulang-pulang jadi kyai.
KH Zarkasyi diterima dengan ramah, maklum temen satu perantauan. Mereka bertiga terlibat obrolan yang seru. Sampai kemudian Gus Dur sadar dia belum bikin minum untuk tamunya. Dia bergegas menuju dapur, mengambil gelas & poci berisi air minum. Lalu dibawa ke ruang tamu, ditaruh di atas meja.
Tiba-tiba KH Mustofa Bisri berteriak, "Gelasnya kotor. Mana nih lapnya?"
Gus Dur membuka-buka lemari. Lalu tanpa diduga dia mengeluarkan celana dalam alias cawet dari lemari, dan dilemparkannya ke arah KH Mustofa Bisri. Dengan dingin & tanpa ekspresi KH Mustofa Bisri mengelap gelas dengan cawet tersebut. Dituangkannya minuman & dipersilakannya KH Zarkasyi minum.
Tentu saja KH Zarkasyi gelagapan & kaget setengah mati. Dia tidak menyangka sama sekali harus minum memakai gelas yang dilap pakai cawet. Mau ditolak takut dikira nggak sopan, tapi kalau diminum kok ya alangkah menjijikkan. Dengan keringat dingin bercucuran terpaksa diminumnya juga, meski dengan perasaan berkecamuk.
Kemudian mereka bertiga melanjutkan acara ngobrolnya kembali. Cuma KH Zarkasyi masih terlihat grogi. Karena nggak tega melihat yuniornya itu gelisah, Gus Dur mencoba menetralkan suasana "...Tadi itu sebenarnya bukan bermaksud untuk menggojlok dirimu, tapi malah buat menghormatimu. Karena cawet itu adalah kain terbersih yang ada di rumah ini. Sebenarnya cawet itu gress dari toko, belum sempat aku pakai jadi belum bisa disebut cawet... ha ha ha...."
Maka meledaklah tawa ketiga sahabat itu.
|